Kamis, 07 April 2011

Dongeng Asal

Ini sebenernya tugas kuliah aku, mata kuliah Fisiologi tumbuhan.. karena Dosen aku ini orangnya seniman banget jadi Dosen aku nyuruh buat tugas tentang menanam air, memanen air. boleh puisi, cerpen, artikel atau apapun yang penting temanya menanam air itu. pusing-pusing aku buat aja cerpen yang sebenernya lebih mirip cerita-cerita yang sering ada diindosiar. tapi ya gak apalah yang penting tugas kelar.. hehhe.. ni cerpennya.. selamat membaca Blogger :)

Cuhup Besak
Dahulu kala didaerah kepulauan Sumatra selatan dimana tumbuhan masih biasa berbicara dan hewan-hewan pun dapat bercakap-cakap dengan manusia. Disana Terdapatlah dua desa yang hidup bertetangga. Perbatasan desa tersebut dibatasi oleh hamaparan tanah yang tandus yang menjadi perbatasan antara dua desa tersebut. Konon dahulu desa tersebut bersatu namun karena ada penyihir jahat yang bernama Wak tuo ingin menguasai daerah yang subur yang dipimpin oleh Cek mat sehingga dia menghasut penduduk daerah tersebut sehingga terpisahlah desa menjadi dua dan daerah tandus tersebut merupakan sihiran dari penjihir jahat sebagai batas kedua yaitu Desa Batu Besak dan Desa Cuhup itulah nama desa tersebut.
Didesa cuhup yang dikuasai oleh penyihir jahat terdapat air terjun yang airnya jernih dan segar. Pohon-pohon tumbuh subur dan banyak, itulah sebabnya sang penyihir menginginkan desa tersebut. Dipinggir-pinggir desa cuhup terdapat banyak pepohonanan yang bertengger disepanjang aliran arus sungainya namun sayang penduduk yang ada didaerah tersebut adalah penduduk yang congkak dan serakah. Setiap hari mereka menebangi pohon yang ada disekitar air terjun.
“Oi galo-galo penduduk aku. Ini Aku Wak tuo yang Kuat dan Hebat hhahhaha” ujar sang penyihir dengan senyum sombongnya
“yang ado galonyo disini itu punyo kamu. Pohonnyo pacak kami ambek buat hiasan dirumah apo idak tu kamu jualke pohon yang besak-besak itu kedoson laen. Banyak gek kamu dapet duet. Pakelah pohonnyo buat rumah kito. Abesilah galo yang ado biar penduduk didoson batu besak iri dengan kito. Dengan harto yang kito punyo dari juali pohon ”. tambah Wak tuo 
“Hidup  Wak tuo.. Jayo Wak tuo. Kami noroti apo yang kau omongke. Kami norot kau Wak” ujar penduduk desa Cuhup dengan senang
Namun disamping itu para pohon dan anak pohon serta binatang-binatang yang mendengar ucapan Wak tuo sedih mendengarnya.
“Mak apo dio yang diomongke wong jelek itam keriput itu mak yo??” ujar anak pohon menyebutkan Nar kepada ibunya
“Anak mamak sayang, kau gek tau dewek” ujar ibu Pohon dengan nada bersedih
“aii mak kasih taulah nak tau aku ni ngapo si mak??”
“Tapi kau jangan tekejot ya. Anak ku, Nar dan Penduduk yang ado didoson ini nak gorok kito. Kito nak dibunuhnyo nak dijadikenyo bahan-bahan buat dio bangun rumah buat dio masak. Kito nak dio jualke doson laen” suara Ibu pohon menyerak dan keluarlah air mata dari matanya.
Mendengar penjelasan dari sang ibu sang anak pun dengan nada polos berkata kepada Wak tuo
“Wak tuo. Amo kau memang rajo kami. Ngapo kau nak bunuhi kami kaum pohon Tuan. Ngapo kau jahat nian samo kami” nada polos anak pohon berkata kepada Wak tuo
“aii apo pacaknyo kau budak kecik. Kau nak kami tebas dak ngurangi persediaan pohon kami. Pohon masih gi banyak” ujar Wak tuo
“owh cak itu yo. Liatkelah bae samo apo yang kau dapetke amo kau teros cak ini dengan kami” ujar ibu pohon bernada mengancam
“Aku  dak takot dengan ancaman kau” Tantang Wak tuo
Usai titah yang disampaikan Wak tuo pada para penduduk. Semua penduduk bersorak. Mereka semua mendukung Wak tuo yang mempunyai kebijakkan untuk menebang pohon sepuas hati mereka tanpa ada yang harus melarang seperti waktu mereka dipimpin oleh Cek mat
Dimulailah awal kehancuran desa Cuhup. 
 Lain halnya dengan desa Batu besak disana mereka hidup bersahaja, saling mengasihi tidak serakah karena pempimpin mereka Cek mat selalu memberikan nasehat kepada penduduknya jika apa yang ada disekitar meraka merupakan titipan yang harus dijaga. Namun mereka harus memulainya dari awal lagi kerena Batu besak masih sedikit pohon yang ada mereka harus menaman kembali seperti apa yang mereka lakukan pada saat mereka berada dalam Desa belum terpecah.
“pendudukku disini didoson kito yang baru. Kito harus biso idop dengan bersahaja. Baek dengan alam sehinggo alam pulo baek dengan kito. Jangan serakah karena Tuhan akan melaknat kito amo kito jadi wong serakah. Kito lah dikasih Tuhan otak untuk berpikir. Oleh kareno itu pendudukku. Kito harus biso gunoke segalo yang ado disekitar kito untuk membuat doson kito yang baru ini jadi subor”. “ Disano ado kebau. Kebau itu biso kito pake untok gemborke tanah” Nasehat cek mat pada penduduknya
“iyo aku siap bantu kamu untuk buat tanah Doson ini jadi gembur. Gek aku ngajak anak-anak dan ponak-ponakan aku buat bantu kamu” ujar tuan kerbau
“apo kito biso cak dulu lagi Cek mat. Banyak air, dingin dosonnyo. Dak pecak sekarang angat bedengkang. Aer lah payah.” Kata seorang penduduk dengan nada pesimis.
“Biso. Yakin bae biso. Tuhan Akan memberikan hal yang terbaek amo kamu galo-galo ni begawe yang serius. Kami pohon ni ageg siap menampung aer buat kito galo-galo. Akar aku kuat biso buat nyimpan cadangan aer Kami bantu geg dinginke doson ini mangko pacak jadi dingin lok dulu” teriak pohon yang telah rentah dari semak-semak
“Yo Bagus yakinkan galo-galonyo dengan Tuhan kito pasti galo-galonyo bejalan dengan baek” ujar Cek mat si pemimpin bijak
Dimulailah awal kehidupan baru didesa bukit besak. Meraka menyakini bahwa apa yang mereka lakukan sepenuhnya untuk kebaikan diri mereka sendiri. Mereka menyakini bahwa apa yang mereka lakukan untuk kebaikan desa mereka sendiri dengan menjaga alam dan memeliharanya.
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Bulan berganti bulan. Dan akirnya Tahun pun berganti tahun. Tak terasa sudah 25 tahun Desa cuhup dan Desa Bukit besak terpisah. Desa cuhup kini telah berubah menjadi desa yang panas. Air yang keruh dan sedikit. Mereka hanya mengandalkan air hujan. Selain ini mereka selalu waspada terhadap tanah longsor akibat pohon yang mereka tebang membuat tanah menjadi tidak kuat. Sehingga sering terjadi longsor. Selain itu desa tersebut menderita penyakit diare dalam beberapa tahun ini karena kekurangan air.
“Wak tuo ngapo doson kito laju jadi cak ini. Ngapo sekarang kami lah payah dapetke aer. Anak-anak kami jugo lah keno diare. Tanah galak longsor pulo didoson kito ni. Ngapo jadi cak ini Wak tuo” ujar sang penduduk dengan nada menyalahkan kapada Wak tuo
“jadi apo dio kendak kau?? Sekarang aku ni Tuan kau jadi jangan banyak tinggah dengan aku” sambil mengambilnya tongkat sihir disamping tempat duduk Wak tuo, Wak tuo akan menyihir penduduk itu. Namun ketika Wak tuo akan menyihir penduduk itu Petir dan kilat menyambar turunlah hujan yang deras dan pada saat Wak tuo akan mengayunkan tongkat terjadilah tanah longsor yang menimpa istananya. Wak tuo pun terkubur bersama kayu-kayu yang ia ambil dia jadikan sebagai penghias setiap sudut istananya dan kayu-kayu yang akan ia jualkan kedesa tetangga lainnya.
Cicuit..cicuit..cit..cit..  ditempat lain tepatnya didesa Batu besak, suara burung riang gembira didesa batu besak yang sekarang telah menjadi desa yang indah, Susana asri menghiasi desa tersebut. Air mengalir disungai-sungai yang dahulunya kering. Sungguh indah dan sejuk melihat desa Batu besak sekarang yang dahulu gersang dan tandus. Karena keuletan dan kerja keras penduduknya untuk menanam pohon maka mereka sekarang menuai hasilnya. Air mengalir dengan deras. Tanpa harus menunggu hujan mereka telah bisa menikmati air yang segar. Dikediaman Cek mat pun mendengar kabar bahwa penyihir Wak tuo telah mati Karena tanah longsor yang terjadi karena hujan kemarin.
Cek mat yang bijak sana pun menawarkan kepada penduduk desa cuhup untuk kembali bergabung menjadi satu dengan penduduk desa batu besak. Cek mat menawarkan untuk merubah tanah yang menjadi perbatasan desa cuhup dan desa batu besak yang telah disihir oleh Wak tuo yang jahat untuk diolah menjadi lahan untuk tempat Desa Cuhup yang baru karena desa Cuhup telah rusak pohonnya telah ditebang sehingga  terjadilah longsor yang parah didesa cuhup air terjunnya pun telah berubah menjadi bukit yang hanya menanjak saja. Desa yang kering itula Desa Cuhup sekarang.
“Pendudukku sekarang kito jadi sikok lagi. Setelah 25 tahun lebeh kito bepisah. Jangan lagi ado perpecahan diantara kito ni. Jago teros silaturahmi. Karena Tuhan idak seneng dengan hambanyo yang memutuskan silahturahmi. Alam yang ado ni hendaknyo kito jago. Karena misal kito jahat samo alam maka alam akan jahat samo kito. Sudah ado bukti nyatonyo. Desa cuhup yang Indah, banyak pohon, banyak aernyo. Tapi amo kito dak pacak jagonyo. Maka alam akan murka.  Tanah yang tandus itu ayo kito gaweke besamo biar pacak subur. Itulah geg jadi tempat kalian Penduduk Cuhup” Begitulah pesan cek mat pada penduduk barunya
“ioh Cek Mat kami ngerti. Kami nak berbuat baek dengan alam sekarang dak galak merusaknyo lagi” ujar penduduk dari desa cuhup
Selanjutnya Cek mat memberi nasihat jika pohon yang ditanam adalah air yang akan dipanen dikemudiaan hari. Sesungguhnya apa yang kita tanam itulah yang kita tuai. Jika kebaikan yang kita perbuat maka itu pula yang akan kita dapatkan dan sebaliknya. Pesan Cek mat kepada seluruh penduduknya yang baru.
Sejak saat itu hiduplah masyarakat desa cuhup dan desa batu besak bersama-sama dengan harmonis. Air terjun pun kembali ada disitu dengan air yang mengalir besar dan deras karna pohon-pohon yang ditanami tumbuh subur disana. Dan desa itu sekarang berubah nama menjadi Desa Cuhup Besak bersama penduduknya yang cinta dengan alam.


_________________________________the end___________________________

0 komentar:

Poskan Komentar